Berburu Air di Musim Hujan, Tantangan Petani Sawah Tadah Hujan

KLIKLABUANBAJO.ID|MBELILING–Berburu air di musim hujan. Itulah umumnya tantangan setiap musim tanam padi bagi para petani sawah tadah hujan.

Hal yang sama dialami petani pada beberapa area persawahan di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat (Mabar), NTT.

Para petani di Warsawe sejak awal tahun 2022 ini, berlomba membajak sawah untuk mengejar ketertinggalan karena khawatir musim penghujan akan berlalu.

Selain menentukan waktu yang tepat untuk menyiapkan bibit dan lahan, para petani juga harus cekatan memesan alat bajak sawah.

Hal itu menjadi kendala bagi para petani sawah tadah hujan, seperti yang mereka keluhkan saat ditemui KLIKLABUAN BAJO.ID di sekitar Langke, kawasan sekitar air Terjun Cunca Wulang.

Yoseph Bensuin (60) dan Alo Mite (50) ditemui Jumat (14/1/2022) mengungkapkan kesulitan umum petani di Langke, Cunca Wulang.

“Sulit dapat traktor. Selalu terlambat karena mesin traktor terbatas. Kalau terlambat bajak, maka gagal panen akhirnya,” kata Yoseph.

Alo mengharapkan adanya dukungan alat traktor dari pemerintah sehingga warga bisa terbantu.

“Kami sulit dapat air karena tiap kali hujan, selokan air tertimbun pasir. Kami harus bersihkan tiap tahun,” kata Alo.

“Kami juga butuh bantuan bendungan sederhana, dan pembenahan selokan di beberapa titik yang rawan amblas,” tambah Alo lagi.

Terkadang jika terpaksa, tutur Alo, para petani membajak menggunakan kerbau. Akan tetapi menemukan kerbau juga tidak mudah saat ini.

“Sulit juga bajak pake kerbau, kerbau sudah sulit,” terangnya lagi.

Ia berharap puluhan sawah tadah hujan di sekitar area wisata Cunca Wulang juga mendapatkan perhatian dari pemerintah. (fei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.