Ditemukan Fosil Baru di Batu Cermin, Berusia 150 Juta Tahun

KLIKLABUANBAJO.ID| LABUAN BAJO–Ditemukan satu fosil baru di kawasan Gua Batu Cermin Labuan Bajo saat tim dari Perusahan Daerah (Perumda) Bidadari selaku pengelola, membuka jalur baru di dalam obyek pariwisata yang luasnya 19 hektar itu.

Fosil mirip kerang laut itu ditemukan dua bulan lalu saat membersihkan lahan pembukaan jalur lintas baru.

Penemuan itu merupakan salah satu hal yang disampaikan oleh Direktur Utama (Dirut) Perumda Bidadari Sutanto Werry, ST, MTech, saat menjelaskan konsep baru pengelolaan obyek pariwisata Batu Cermin, Kamis (7/10/2021) kepada wartawan.

“Kami menemukan fosil itu di luar gua, menempel di batu. Penemuan itu saat kami membuka jalur baru. Saya sudah minta bantuan beberapa teman yang konsen dengan dunia arkeologi, kesimpulan sementaranya fosil itu diperkirakan berusia 150 juta tahun. Tetapi itu lebih pada data yang kami dapat dari google lens ” kata Werry.

Untuk diketahui, selama ini di kawasan gua itu juga ada fosil kura-kura dan ikan.

Diduga masih ada sejumlah fosil jenis lainnya yang belum ditemukan dalam kawasan obyek pariwisata dalam kota Labuan Bajo itu.

Wery menyampaikan bahwa saat ini obyek pariwisata Gua Batu Cermin sedang dalam penataan dan akan tampil dengan wajah baru yang lebih menarik dengan berbagai sarana.

Termasuk salah satu bangunan lantai dua untuk UMKM, baik untuk produk asli warga Manggarai Barat (Mabar) maupun kuliner lokal.

“Nanti setiap hari ada pertunjukan di sore hari sehingga ada keterlibatan sanggar. Setelah menonton pertunjukan, pengunjung bisa makan malam di tempat kuliner yang sudah disiapkan. Ada atau tidak ada penonton, wajib ada pertunjukan setiap hari. Anggaran untuk membiayai sanggar berasal dari sponsor sehingga mereka ada penghasilan,” kata Werry.

Satu unit bangunan besar di dalam kawasan itu terdiri dari toko-toko souvenir lokal di lantai satu dan tempat-tempat kuliner di lantai dua.

“Ada pusat cendera mata, auditorium mini berukuran 8 x 6,5 meter dengan tinggi 6 meter. Ada loket, coffee shop, meeting room kapasitas 20 orang dengan peralatan lengkap, ada studio recording, semuanya berbayar. Ada juga ruangan P3K dan Fashion lab. Sedangkan khusus di pintu masuk gua pakai scan supaya pembayaran tiket tertib. Pengunjung gua juga terakomodir dalam asuransi jasa raharja putra,” kata Werry.

Areal parkir yang representatif, kantor pengelola, dan ruang ganti juga ada dalam kawasan itu.

Pusat cendera mata disiapkan untuk produk hasil karya warga Mabar termasuk tenun, diprioritaskan untuk tenunan warga Mabar.

Bila produk tenun Mabar masih kurang maka dibuka peluang untuk daerah lain di Flores, kalau masih kurang juga maka membuka peluang untuk tenunan daerah lain di NTT dan stop sampai di situ.

Pihaknya juga akan menyiapkan museum untuk miniatur-miniatur benda purba kala, misalnya terkait Homo Floresiensis dan lainnya.

“Ini juga untuk memancing kreatifitas warga dalam pembuatan miniatur-miniatur,” tutur Werry.

Selain itu ruangan tunggu untuk pengunjung yang antri masuk ke dalam gua juga disiapkan.

Ada tempat untuk kuliner out door dan tempat khusus untuk taman bunga endemik.

“Juga untuk kegiatan out bound termasuk bagi anak anak. Selain itu ada jalur tracking menggunakan jalur alam, bisa juga bagi pesepeda dan disiapkan untuk gamping. Adventure bike, tracking, gamping, tenun fashion week dan akses untuk kaum difabel semuanya disiapkan. Pintu masuknya tersendiri dan pintu keluarnya juga tersendiri,” kata Werry. (tin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.