Sampah dan Kondom

Oleh Ervas Ketua.

Sampah saat ini menjadi salah satu momok dalam perkembangan peradaban.

Sampah berserakan di mana-mana, mengganggu pemandangan sudah pasti; mencemari lingkungan adalah lanjutannya.

Diskusi, himbauan dan langkah-langkah penangangan diambil dan dilakukan oleh cukup banyak pihak,namun sepertinya belum menyentuh akar persoalan.

Pertanyaannya adalah kenapa?
Apakah pertumbuhan manusia (yang suka buang sampah sembarangan) meningkat drastis?
Atau kesadaran akan pentingnnya lingkungan yang indah dan bersih yang semakin menurun bahkan tidak lagi menjadi kebutuhan?

Menyebut dan atau membaca sampah, yang terlintas adalah tumpukan barang/benda (dan mungkin orang) yang sudah tidak digunakan lagi.
Tentu saja tidak digunakan lagi bukan berarti boleh dibuang dimana saja kan?

Yang terjadi, barang-barang bekas yang seharusnya sudah tidak terpakai oleh manusia malah dibuang sembarangan seolah alam akan bisa menggunakannya kembali untuk mempercantik diri.

Tidak perlu mencari terlalu jauh ketika bicara sampah, lihat saja sekeliling. Sampah bertebaran menjadi bagian dari hijaunya rumput sekarang ini. Kadang terlihat seperti bagian dari tanaman, seolah bunga-bunga itu bertransformasi menjadi plastik, kertas dan kawannya yang seharusnya tidak ada disana.

Kadang kondisi ini juga mengingatkan saya pada manusia-manusia plastik yang bertebaran saat ini hehhe.
Sulit sekali menemukan hamparan hijau tanpa ada sampah yang tercecer diantaranya.

Sampah menurut KBBI adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Sedangkan menurut Wikipedia sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya sebuah proses.

Jadi untuk yang bilang orang (baca:mantan) itu sampah tentu saja salah, karena orang tidak masuk kategori benda, barang atau material walalupun tidak digunakan atau diinginkan lagi. Upss.

Laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2019, jumlah sampah yang dihasilkan perorang setiap harinya di Indonesia kurang lebih 0,7 kg. Banyak sekali.

Sampah plastik dan sampah lainnya yang susah dihancurkan, secara kasat mata terlihat paling banyak berserakan di alam. Kadang terlintas pikir bahwa suatu hari nanti manusia akan berjalan di antara tumpukan sampah.
Orang Manggarai bilang, “jalan-jalan dan kita akan susah silih sampah di antara kaki”

Untuk beberapa hal, pertanyaan mengapa kadang tidak penting dan seharusnya lebih penting untuk tahu bagaimana (mengatasinya). Tetapi untuk soal sampah sepertinya pertanyaan ini harus ditanyakan diawal.

Jaman masih sekolah, tulisan-tulisan yang isinya mengajak orang untuk tidak membuang sampah sembarangan ada dimana-mana. Dalam ruang kelas, di tempat-tempat umum bahkan di rumah.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya menjadi salah satu norma yang ditekankan dengan cukup keras dilingkungan keluarga dan sekolah.

Hari Jumat setiap minggunya menjadi hari yang ditunggu, karena waktu mulai jam pelajaran akan sedikit diundur untuk memungut semua sampah yang ada dilingkungan sekolah.
Pulang ke rumah, setiap sore harus mengumpulkan sampah di sekeliling rumah dan membakarnya. Menyenangkan

Entah sejak kapan kebiasaan-kebiasaan baik itu hilang. Sepertinya semua orang saling mengharapkan untuk membuang sampah. Semua orang seperti berlomba untuk menghasilkan sampah dan di saat yang sama berharap sampahnya akan berjalan sendiri ke tempat pembuangan.

Tempat sampah saat ini sudah tersedia dimana-mana, pemerintah bahkan menyediakannya. Bandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, ketika prakarya adalah membuat tempat sampah atau gotong royong untuk membuat lubang sampah. Semakin banyak tempat sampah yang disediakan, semakin banyak sampah yang dibuang tidak pada tempatnya.
Seolah mempertontonkan paradoks yang aneh tentang ketersediaan.

Seharusnya tidak menunggu komando atau himbauan dari siapa-siapa untuk membuang sampah dengan tertib. Membuang sampah harus dilakukan dengan kesadaran dan niat untuk kehidupan yang lebih baik.

Kita ambil contoh ketika membuang kondom bekas.
Ketika membuang kondom bekas, bisa dipastikan kita akan melakukannya dengan cepat dan enteng. Tidak ada niat untuk berlama-lama menyimpannya apalagi membuangnya sembarangan.

Kondom bekas pakai biasanya tiba-tiba terlihat ditempat sampah umum tanpa tahu siapa pemiliknya dan kapan dibuangnya.
Kalau dibuang sembarangan maka akan berpotensi konflik, baik dalam skala kecil maupun besar.

Mungkin untuk konteks “hari gini” kata anak milenial, sosialisasi tentang membuang sampah pada tempatnya itu dilakukan dengan memberi contoh tentang kondom itu ya…
Mari memikirkannya bersama

(Coretan ringan dari Suka).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.