Dua Petani Manggarai Raya Lulus ke Jepang, Berikut Namanya

LABUAN BAJO, KL–Dua orang petani muda dari wilayah Manggarai Raya, lulus dalam seleksi untuk magang kerja ke Jepang.

Dua petani itu berasal dari Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) dan Kabupaten Manggarai.

Sementara satu peserta dari Kabupaten Manggarai Timur (Matim), dinyatakan lulus cadangan.

Peserta dari Mabar yang lulus atas nama Hugolinus Joeventus Basri Pangkur. Sedangkan dari Manggarai
Emanuel G. Harum.

Peserta yang lulus cadangan dari Matim, yaitu Agustinus Handresmin.

Untuk diketahui, sebanyak 30 orang petani muda NTT dinyatakan lulus hasil tes seleksi administrasi, wawancara, tes IQ, dan fisik atau kebugaran untuk magang kerja ke Jepang.

Namun 30 orang tersebut masih harus menjalani pelatihan terlebih dahulu, termasuk latih Bahasa Jepang sebelum berangkat.

30 orang itu merupakan peserta yang lulus dari jumlah total peserta yang mengikuti tes sebanyak 171 orang.

Selain 30 orang itu, terdapat 5 orang lainnya yang dinyatakan lulus cadangan.

Diberitakan sebelumnya, Provinsi NTT mendapat kuota 30 orang pemuda-pemudi untuk magang kerja di Jepang tahun 2021 ini selama 2 hingga 3 tahun.

Mereka merupakan petani yang bisa bekerja di sektor pertanian, peternakan, serta perikanan dan akan digaji selama berada di Jepang.

Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang, Drh Bambang Haryanto, menyampaikan itu kepada wartawan di Labuan Bajo.

Dia menjelaskan, pendaftaran secara online sudah dilakukan dan jumlah peminatnya sebanyak 171 orang.

Disampaikannya, sebelum ke Jepang, para peserta dibekali oleh keterampilan baik bahasa maupun hal tekhnis di bidang pertanian, peternakan, maupun perikanan.

“Mereka dikirim ke Jepang dengan klasifikasi tenaga kerja. Tentu ada proses seleksi, mulai dari administrasi. Seperti ijazah, KTP dan sebagainya. Usia antara 19 sampai 39 tahun. Lalu tes kecerdasan harus punya skor minimal 90. Kenapa diadakan tes karena nanti dalam waktu 75 hari dilatih dengan Bahasa Jepang,” kata Bambang.

Dia menambahkan, para peserta juga dilakukan tes fisik.

“Tes fisik karena nanti dikirim ke negara orang sehingga jangan sampai mempunyai penyakit atau fisik kurang memadai. Di sana dituntut kemandirian. Selain itu juga ada tes wawancara,” kata Bambang.

Tes wawancara kata dia untuk mengetahui motivasi dari para peserta.

Setelah pulang dari Jepang, para peserta diharapkan menjadi pelopor pertanian, peternakan, dan perikanan di NTT.

“Mereka bekerja di Jepang antara dua sampai tiga tahun. Di sana digaji. Jadi, mereka menjadi pegawai profesional,” kata Bambang. (tin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.