Bulan Refleksi Bagi Tikus Berdasi

Mari para tikus berdasi, berefleksi dirilah! Jangan lagi tinggal dalam ketamakan yang mendatangkan dosa dan duka nestapa. Bersimpuhlah dalam doa sambil merenung diri dengan refleksi untuk menjadi lebih baik. Anda semua adalah utusan Allah untuk menjadi garam dan terang dunia. Ingat jabatan itu anugerah suci dari Ilahi. Mari berefleksi, berpuasa diri jangan korupsi.!!

Oleh: Marianus Duman., S.Fil. M.M
(Dosen Politeknik eLBajo Commodus)

Duka Negeri

Semenjak bulan Maret tahun 2020 negeri ini sudah terjangkit covid-19. Di tiap sudut negeri ada tangis dan duka menyelimuti hati. Begitu kejam covid-19 ini merenggut jiwa-jiwa yang suci. Ia berjalan dengan keperkasaanya menggilas semua jiwa tanpa dapat dikendali. Masyarakat bawah yang tidak memiliki harta menjadi korban yang paling berdampak. Jangankan berobat atau sekedar membeli vitamin, untuk makan saja pun ia susah.
Siapa yang peduli?

Dalam kegalutan itu, negeri kembali dilukai. Kini longsor dan banjir yang merenggut jiwa-jiwa suci. Mereka kehilangan anggota keluarganya, rumahnya, kampungnya, kotanya dan kebahagiaannya. Tidak ada lagi yang tersisa dalam jiwa semuanya sirna. Siapa yang peduli?

Tidak berhenti di situ, negeri kembali mendapat duka ngeri karena banyaknya jiwa yang mati. Sebuah pesawat komersial jatuh dan tidak ada yang selamat. Air mata kembali jatuh tertumpah meratapi semua yang terjadi. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan semua ini.
Siapa yang peduli?

Selanjutnya diberitakan adanya gempa yang kembali merenggut jiwa. Bersamaan dengan itu banjir dan longsor lagi-lagi terjadi di mana-mana. Tangisan duka kembali meronta dalam kelemahan manusiawi. Tanah surga, kolam susu, ikan dan udang sebagai gambaran kekayaan negeri ini telah pergi. Kini semuanya hanya air mata duka, kolam derita, virus mengganas, guncangan gempa dan lain sebagainya yang membuat iman dan harapan tak ada lagi. Siapa yang peduli?

Kini masyarakat hanya tinggal dalam diam sambil mengharapkan adanya mukjizat dari yang kuasa. Semoga segala duka dan air mata segera sirna. Negeri kembali berjaya menata segala sendi-sendinya. Namun apakah doa kecil ini ada dalam hati setiap anggota negeri?

Bejatnya Para Tikus Berdasi

Duka negeri yang ngeri seolah tidak berhenti. Hati nurani seluruh rakyat yang sedang sedih kembali disayati. Kini bukan dari tubuh ibu pertiwi atau alat transportasi. Duka ini datang dari para tikus berdasi yang melakukan tindakan bejat berupa korupsi. Mereka adalah orang-orang terpandang dengan latar belakang pendidikan yang tinggi. Mereka menduduki jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan baik pusat maupun daerah.

Bejatnya mereka malah melakukan korupsi dalam kondisi negeri yang sedang bersedih. Bukan berarti boleh korupsi jika negeri ini tidak sedih. Mereka malah mengambil harta negeri yang dialokasikan untuk mengatasi dampak dari beberapa bencana yang terjadi. Dana penanggulangan bencana covid-19 ini ditelan hanya untuk memperkaya diri.

Selanjutnya ada pula yang menjual harta negeri kepada para kelompok borjuis. Kerugian negeri hingga triliunan rupiah. Mereka berkongsi menyusun strategi agar mendapat keuntungan demi memuaskan diri. Mereka berpesta pora di atas duka negeri dan mengkhianati hati nuraninya sendiri serta ketulusan masyarakat yang dulu memilihnya pada pesta demokrasi. Itu pun jika mereka masih memiliki hati nurani dan perasaan malu dalam diri.

Mungkin saja setelah menduduki jabatan strategis, para tikus berdasi langsung kehilangan hati nurani. Tindakan mereka mengeksekusi publik dan memenjara jiwa-jiwa yang suci. Mereka yang melakukan korupsi secara terang-terangan melawan konsep kesucian tindakan manusia itu sendiri yaitu salus animarum (keselamatan jiwa-jiwa). Karena itu maka para tikus berdasi pantas disebut animal non rationale (binatang yang tidak berakal budi).

Laura Underkuffler (2013) menunjukkan bahwa memahami korupsi dalam gagasan moral mampu menangkap lebih tepat kebejatan dan kejahatan yang diidap. Artinya korupsi adalah sebuah kebejatan dalam dirinya karena mengkhianati semua landasan suci yang ada pada sesama.

Tindakan para tikus berdasi meninggalkan pedih mendalam bahkan tidak ada obat yang mampu memulihkannya. Dampak terparahnya adalah hilangnya jiwa karena rendahnya perkembangan ekonomi yang berdampak pada pendapatan rakyat. Daya beli masyarakat semakin menurun, tingkat kesejahteraannya pun semakin memburuk. Kondisi kesehatannya semakin terpuruk dan akhirnya nyawa pun terrenggut. Itulah dampak korupsi yang sangat sistemik dan permanen pada masyarakat.

Apakah dengan penjara lalu jiwa rakyat yang telah sirna dapat terpulihkan? Apakah dengan penjara dapat memulihkan ekonomi rakyat? Apakah dengan penjara, seluruh kerugian masyarakat terbayar? Apakah, apakah dan apakah adalah pertanyaan rakyat yang selalu terucap kepada para penguasa dan tikus berdasi yang tidak pernah terjawab bahkan hingga liang lahat pun datang. Siapa yang peduli?

Jabatan adalah Tugas Suci

Pada dasarnya kehidupan manusia di dunia ini adalah sebuah perutusan. Perutusan ini datang dari Yang Maha Kuasa sang fons cinta kasih yang abadi. Dia mengutus kita ke dunia untuk membawa cinta kasih itu dan menerjemahkannya dalam tindakan nyata.

Sebagai utusan kita diberi beban dan tugas masing-masing. Ada yang menjadi rakyat biasa, pendidik, pejabat dan nabi-nabi yang mengurus kesucian hati. Tugas-tugas ini suci adanya karena berasal dari sang suci utama. Karena itu konsekwensinya bagi kita adalah harus bertindak suci. Kita di utus menjadi garam dan terang yang membuat dunia ini sejahtera dan bebas dari kegelapan karena “dosa”.

Kita di utus menjadi manusia Allah (man of god) yang menjadi corong untuk menyuarakan suara cinta kasih-Nya. Tindakan nyata adalah bentuk konkrit implementasinya bukan sekedar retorika belaka. Man of god akan menjadi perintis segala bentuk kebaikan demi menciptakan bonum commune (kebaikan bersama).
Harapan ini nyata dalam sebuah jabatan dengan prinsip good governance (pemerintahan yang baik/bersih).

Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang tidak terdapat cacat cela. Tidak terdapat dosa-dosa baik besar maupun kecil. Segala pikiran, perkataan dan perbuatannya adalah sebuah kesucian yang murni. Itulah substansi dari kata good governance.

Untuk dapat lebih jauh memahami jabatan sebagai tugas suci harus menyadari bahwa jabatan berasal dari hati nurani rakyat. Ingat suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi vox dei). Suara Tuhanlah yang berhembus dalam tubuh dan jiwa para pejabat. Suara itu yang kemudian menggerakkan seluruh tubuh jiwa dan raganya untuk membuat segala sesuatu perubahan guna mencapai kesejahteraan. Semua pejabat itu utusan Allah (legatus deus). Maka hiduplah seperti Allah bukan sebagai “illah-illah”.

Refleksi Melalui Discernment

Refleksi adalah proses merenung dan menganalisis diri sendiri tentang segala kebiasaan, pikiran, perasaan, perkataan, perbuatan dan keputusan yang dilakukan. Refleksi sejatinya melihat diri lebih dalam tentang apa yang telah kita perbuat. Di sini kita melakukan pemeriksaan batin yang mendalam dengan kesadaran yang tinggi. Guna mendapat hasil refleksi yang lebih baik harus disertakan dengan discernment hati.

Discernment (Latin: discernere) artinya memisahkan, membedakan dengan cermat satu objek dengan objek yang lain dalam hati. Dengan dapat membedakan hal-hal itu secara mendalam termasuk hati, kehendak, kondisi batin, sifat baik buruk, kualitas diri, seseorang mampu mengambil keputusan yang bijak, baik dan benar.

Dalam melakukan refleksi diri melalui discernment seseorang harus menyadari dan membedakan jenis-jenis roh (discretio spirituum) dalam dirinya. Sadari roh apa yang telah merong-rong dalam diri selama ini, roh jahat ataukah roh baik (roh kudus). Orang yang melakukan discernment dengan sungguh, baik dan benar akan mengikuti Roh Kudus atau Roh Allah dan kemudian menjadi anak Allah.

Sebaliknya jika tidak sungguh-sungguh dan salah maka ia akan mengikuti roh jahat atau setan, lama-lama menjadi anak setan dan akhirnya jadi setan sungguhan.

Agar tidak mengikuti roh jahat atau setan proses discernment selalu dihubungkan dengan doa dan refleksi. Artinya proses ini tidak akan berhasil jika tidak dipraktekkan dengan doa dan refleksi diri serta komitmen untuk tidak jatuh dalam dosa yang sama. Dengan itu maka kematangan batin, jiwa dan dirinya akan semakin membaik.

Discernment adalah langkah menemukan diri yang utuh dalam terang kasih Allah untuk membentuk habitus baru yang jauh dari dosa-dosa termasuk korupsi seperti yang dilakukan para tikus berdasi.
Maka mari para tikus berdasi, berefleksi dirilah! Jangan lagi tinggal dalam ketamakan yang mendatangkan dosa dan duka nestapa.

Bersimpuhlah dalam doa sambil merenung diri dengan refleksi untuk menjadi lebih baik. Anda semua adalah utusan Allah untuk menjadi garam dan terang dunia. Ingat, jabatan itu anugerah suci dari Ilahi. Mari berefleksi, berpuasa diri jangan korupsi agar duka negeri berhenti dan tak ada lagi! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.